Sabtu, 01 Desember 2012

Jawaban TTS



Mendatar
1. Baku
3. Ragam
6. Linguis
7. Makna
8. Sema
9. Ophuijsen
11. Titik
15. Titikkoma
17. Indonesia
18. Dia
19. Kami
20. Aku



 


Menurun
1. Bahasa
2. Kalimat
3. Resmi
4. Melayu
5. Subjek
10. Ejaan
12. Titikdua
13. Fakta
14. Alibi
15. Tanya
16. Koma

Senin, 08 Oktober 2012

Gaya Bahasa

-->
BAHASA INDONESIA
(Gaya Bahasa)

Artikel
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Softskill Bahasa Indonesia






Nama              : Yuanita Dwi Indah Wardhani
NPM                : 18110698
Kelas               : 3KA24

 FAKULTAS ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2012



-->
GAYA BAHASA
  Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Pemakaian gaya bahasa juga dapat menghidupkan apa yang dikemukakan dalam teks, karena gaya  bahasa dapat mengemukakan gagasan yang penuh makna dengan singkat. Contoh gaya bahasa sebagai berikut :
1.      Metafora dibentuk berdasarkan penyimpangan makna, terdapat dua benuk bahasa (penanda) yang maknanya diperbandingkan. Gaya bahasa metafora menggunakan kiasan-kiasan dengan perbandingan yang bersamaan dengan maksudnya.1 Contoh : Air matanya mengalir menganak sungai.
2.     Pleonasme adalah pengunlangan dengan penanda yang berbeda. Sebenarnya, komponen makna yang ada pada kata pertama, telah tercakup dalam wilayah makna kata berikutnya. Gaya bahasa pleonasme  digunakan untuk menegaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. 2 Contoh : Bunga itu jatuh kebawah.

  1 Abdul Aziz, Adlan dan Minanurahman, Pedoman Umum Tata Bahasa Indonesia(Jakarta: Bee Media Indonesia, 2012), hal 88
  2 Abdul Aziz, Adlan dan Minanurahman, Pedoman Umum Tata Bahasa Indonesia(Jakarta: Bee Media Indonesia, 2012), hal 89


DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Abdul, Adlan dan Minanurahman, Pedoman Umum Tata Bahasa Indonesia(Jakarta: Bee Media Indonesia, 2012)

 
 

 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Sinopsis Buku


TUHAN IJINKAN AKU MENJADI PELACUR
                Novel ini mengisahkan seorang wanita muslimah yang berubah menjadi seorang pelacur. Wanita ini bernama Nidah Kirani, seorang wanita muslim yang sangat menjaga auratnya dengan menghijabi tubuhnya dengan jubah dan jilbab yang lebar. Kiran tinggal di Pondokan Ki Ageng bersama teman-temannya. Hampir setiap waktu dia habiskan untuk menyembah dan mendekatkan diri kepada Tuhannya yang sangat ia agungkan, seperti shalat, membaca Al-Quran dan berzikir. Ketertarikan akan Islam mendorongnya untuk terus belajar tentang agama Islam. Sampai membentuk suatu forum kajian untuk membahas masalah-masalah keislaman. Dari forum ini barulah ia berkenalan dengan seorang ikhwan (sebutan laki-laki muslim) bernama Dahiri. Dahiri juga ternyata merupakan teman sekelas Kiran yang sama-sama sebagai aktivis islam yang memperjuangankan tegaknya syariat Islam. Dahiri sangat aktif dan berwawasan saat membahas tentang suatu masalah dalam forum diskusi, hal itu tentu saja membuat Kiran memperhatikannya. Tidak hanya pada forum, Dahiri juga sering membahas suatu masalah pada Kiran di luar forum.
Tetapi ternyata Dahiri merupakan aktivis jamaah suatu organisasi keras yang menginginkan tegaknya syariat di Indonesia yang bisa mengantarkan pengikutnya menjalankan agama Islam secara khaffah. Dahiri memang sudah mengincar Kiran untuk masuk dalam organisasinya yang sebenarnya dilarang pemerintah. Dia tahu bahwa Kiran memang sedang ingin memperdalam pengetahuan agamanya oleh karena itu, ini adalah kesempatannya untuk menarik Kiran masuk kedalam organisasinya. Dengan bekalnya berargumen dan pengetahuan dan penguasaan ayat Al-Quran dan Hadits , maka dia pun berhasil mempengaruhi pemikiran Kiran. Kiran yang mungkin sebenarnya sudah cukup menguasai agama seperti dicuci pemikirannya, sehingga Kiran berpikir bahwa ternyata ilmunya masih dangkal, karena banyak sekali ilmu-ilmu yang belum ia tahu. Akhirnya Kiran memutuskan untuk masuk ke dalam organisasi yang ia yakini bisa membawanya lebih dekat kepada Tuhannya. Setelah ia menjalani proses baiat atau melakukan sumpah, Kiran memang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar menginginkan untuk dekat kepada Tuhannya, seperti berpuasa setiap hari. Waktunya dia habiskan untuk menegakkan syariat Islam dan berdakwah mengajak orang-orang yang berada di sekitarnya untuk ikut bergabung dalam organisasinya. Tidak jarang dia mendapatkan penolakan dan membuatnya terasingkan orang-orang yang tinggal di pondok. Karena merasa tidak disukai, maka Kiran memilih untuk tinggal di Pos Jamaah. Dia mengira aktivitas di Pos Jamaah lebih khusyuk tetapi ternyata tidak lebih baik dari pondokkannya.
Kiran terus berdakwah mengajak orang-orang yang berada disekitarnya untuk masuk ke dalam organisasi keras itu. Di organisasi ini, jamaahnya diharuskan membayar infak yang katanya akan digunakan untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Bahkan jamaahnya diperbolehkan menipu, mencuri, hingga melacur untuk mendapatkan uang. Tetapi di tengah perjalanan, Kiran merasakan kekecewaan, sudah banyak hal yang tidak menyenangkan yang dia dapati dan banyak sumbangan yang ia berikan tetapi dia tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari kegundahan yang ia rasakan. Saat bertanya tentang problema yang ia hadapi jawabannya hanya seputar itu-itu saja, dan jawaban yang tidak masuk akal. Ia merasakan ada kejanggalan dalam organisasi yang ia ikuti, tidak punya tujuan dan tidak diberikan informasi kemana saja uang infak digunakan. Kiran pun akhirnya berusaha keluar dari organisasi itu, tetapi sangat tidak mudah karena organisasi ini tidak diizinkan pemerintah, maka jika jamaahnya yang keluar konsekuensinya harus dibunuh.
Dalam keadaan frustasi, ia bertemu dengan Daarul Rachim seorang ketua Forum Studi Mahasiswa Kiri Untuk Demokrasi. Dengan Daarul, Kiran mencerikan keluh kesahnya selama ini. Semakin dekat dengan Daarul, Kiran merasa dia adalah pelindung untuknya. Sampai suatu saat kiran harus menggadaikan keimanannya dengan melepas keperawanannya karena tidak kuat menahan rasa cintanya kepada laki-laki yang dianggapnya bisa melindunginya dan juga sebagai wujud pemberontakan terhadap Tuhannya. Karena kesalahpahaman, maka hubungannya dengan Daarul harus kandas, lagi-lagi Kiran menyalahkan Tuhannya karena ini. Karena sangat frustasi, Kiran akhirnya memilih dunia hitam untuk melampiaskan kemarahan kepada Tuhannya. Dia mulai mengenal narkoba dan free sex. Bahkan setiap bercinta dia merasa puas karena bisa melampiaskan kemarahan kepada Tuhannya. Dari satu pelukan laki-laki sampai pelukan laki-laki lain, bahkan ia senang bisa membuka topeng para aktivis Islam yang sangat menyerukan tegaknya syariat Islam dengan menidurinya. Sampai akhirnya ia bertemu dosennya yang juga merupakan seorang anggota DPRD merangkap sebagai germo. Sampai akhirnya pada tahap perenungan dan Kiran memutuskan memilih dirinya sebagai pelacur, karena kekeceawaanya yang sangat dalam dan sebagai tanda pemberontakkan kepada Tuhan yang telah menghancurkan hidupnya. Menuruntya, pilihannya sebagai pelacur sangat tepat untuk memaknai kehidupannya, sekaligus menunjukkan bahwa menjadi pelacur berarti dapat menguasai dan menundukkan laki-laki, bukan dikuasai laki-laki seperti halnya dalam pernikahan.